Sudah tiga tahun lebih tinggal di kota Padang, Sumatera Barat, sudah pernah juga sebelumnya pergi jalan - jalan ke Bukit Tinggi, tapi yaa sekedar lihat - lihat aja. Baru kali ini berkesempatan ke Bukit Tinggi yang bener - bener di explore. hehehe :) . Alasan utama berangkat ke Bukit Tinggi, karena Hilda Marhandy (A friend of life) datang ke Padang dan tentu saja karena telah jauh - jauh datang dari Kuala Lumpur (Malaysia) yaa berjalan - jalanlah menyusuri Bukit Tinggi hingga ke Puncak Lawang.
"Kalau belum ke Jam Gadang bearti belum ke Minang", begitu kata orang. Here we go !
Jam Gadang
Ini ada sedikit info, hasil intip dari situs http://www.catatansejarah.com/2010/11/sejarah-berdiri-jam-gadang-bukit-tinggi.html
Jam Gadang adalah sebuah
menara jam
yang merupakan markah tanah kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat
di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan
keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun. Nama Jama gadang
diberikan oleh masyarakat Minangkabau kepada bangunan menara jam itu,
karena memang menara itu mempunyai jam yang “gadang“, atau “jam yang
besar” (jam gadang=jam besar; “gadang” berarti besar dalam bahasa
Minangkabau).
Sedemikian fenomenalnya
bangunan menara
jam bernama Jam Gadang itu pada waktu dibangun, sehingga sejak
berdirinya Jam Gadang telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal
itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang dijadikan penanda atau markah
tanah Kota Bukittinggi dan juga sebagai salah satu ikon provinsi
Sumatera Barat.
Mesin Jam Gadang diyakini hanya ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja
yang saat ini terpasang di Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara
manual tersebut oleh pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal)
diberi nama Brixlion.
Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh.
Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang
saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu
Belanda kepada Controleur
(Sekretaris Kota). Pada masa penjajahan Belanda, jam ini berbentuk bulat
dan di atasnya berdiri patung ayam jantan, sedangkan pada masa
pendudukan Jepang, berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya
berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.
Ukuran diameter jam ini adalah 80 cm, dengan denah dasar 13x4 meter
sedangkan tingginya 26 meter. Pembangunan Jam Gadang yang konon
menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden ini, akhirnya menjadi
markah tanah atau lambang dari kota Bukittinggi. Ada keunikan dari
angka-angka Romawi pada Jam Gadang ini. Bila penulisan huruf Romawi
biasanya pada angka enam adalah VI, angka tujuh adalah VII dan angka
delapan adalah VIII, Jam Gadang ini menulis angka empat dengan simbol
IIII (umumnya IV).
 |
| Ini diseberang Jam Gadang, ada Istana Bung Hatta . Bung Hatta berasal dari Bukit Tinggi |
|
|
|
Sebenernya waktu itu mau ke Kebun Binatang dan naik jembatan di Bukit Tinggi, namun karena kami ingin melanjutkan perjalanan ke Great Wall dan Lobang Jepang dan berniat ke Puncak Lawang, akhirnya kami Langsung ke Great Wall dan Lobang Jepang.
Lobang Jepang
Dari situs : http://www.gosumatra.com/mengenang-sejarah-di-goa-jepang-lubang-jepang/


Sejarah terbentuknya Goa Jepang ini tentu bukanlah sesuatu yang asing
lagi bagi kita karena tentunya dulu sewaktu sekolah kita pernah
mempelajari tentang sejarahnya. Keberadaan Goa Jepang ini memang sebagai
salah satu bukti dan saksi perjuangan para pahlawan kita dalam meraih
kemerdekaan dan mempertahankan Indonesia. Keberadaan Goa Jepang di
Bukittinggi juga bukanlah suatu kebetulan. Letaknya yang strategis di
tengah Pulau Sumatra, membuat Kota ini sempat menjadi Pusat Komando
Pertahanan Tentara Jepang di Sumatera (
Seiko Sikikan Kakka). Pasukan Jepang saat itu di bawah pimpinan Jenderal Watanabe.
Selain
untuk kubu pertahanan, Goa Jepang di Kota Bukittinggi ini juga
berfungsi untuk ruang dapur, ruang makan, tempat penyimpan amunisi,
barak, rumah sakit, ruang sidang, dengan total 27 ruangan kompleks
lengkap. Bahkan, denah pun tertera di dinding pintu masuk. Tahanan
penduduk Indonesia dipaksa dengan kejam mengerjakan penggalian Goa ini.
Bahkan, tidak sedikit yang gugur akibat siksaan kerja paksa dalam
pembuatan Goa Jepang ini.
 |
| Ini katanya ruang pengintaian, itu lobang dideket kaki gunanya untuk masukin mayat dan langsung terhubung ke sungai |
|
|
dari atas lobang jepang (panorama), juga bakal dilihat ngarai sianok dan great wall
dan ini waktu di Puncak Lawang, perjalanan dari Bukit Tinggi ke Puncak Lawang sekitar 1 jam . Jalanan sempit dan berliku namun udara semakin dingin semakin mendekati puncak Lawang. Disana biasanya ada Parasailing, bisa ngeliat danau Maninjau dari atas Puncak Lawang, namun karena kami tersasar- sasar. Kami sampai di Puncak lawang pukul 5 sore. Kami tidak dapat melihat danau karena tertutup kabut, dan juga tidak ada aktivitas parasailing ketika kabut telah menutupi. Tapi memang sih ciri khas Puncak Lawang adalah kabutnya hehe .