Thank You

Hai :) Thank you for visiting my blog . I wish everything i wrote will be so much usefull

Total Tayangan Halaman

Friend of life

Friend of life
hilmarhandy (ig)

Bukit Tinggi, Sumatera Barat

Diposting oleh Unknown di 01.42
Sudah tiga tahun lebih tinggal di kota Padang, Sumatera Barat, sudah pernah juga sebelumnya pergi jalan - jalan ke Bukit Tinggi, tapi yaa sekedar lihat - lihat aja. Baru kali ini berkesempatan ke Bukit Tinggi yang bener - bener di explore. hehehe :) . Alasan utama berangkat ke Bukit Tinggi, karena Hilda Marhandy (A friend of life) datang ke Padang dan tentu saja karena telah jauh - jauh datang dari Kuala Lumpur (Malaysia) yaa berjalan - jalanlah menyusuri Bukit Tinggi hingga ke Puncak Lawang.

"Kalau belum ke Jam Gadang bearti belum ke Minang", begitu kata orang. Here we go !

Jam Gadang

Ini ada sedikit info, hasil intip dari situs http://www.catatansejarah.com/2010/11/sejarah-berdiri-jam-gadang-bukit-tinggi.html

Jam Gadang adalah sebuah menara jam yang merupakan markah tanah kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun. Nama Jama gadang diberikan oleh masyarakat Minangkabau kepada bangunan menara jam itu, karena memang menara itu mempunyai jam yang “gadang“, atau “jam yang besar” (jam gadang=jam besar; “gadang” berarti besar dalam bahasa Minangkabau).
Sedemikian fenomenalnya bangunan menara jam bernama Jam Gadang itu pada waktu dibangun, sehingga sejak berdirinya Jam Gadang telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang dijadikan penanda atau markah tanah Kota Bukittinggi dan juga sebagai salah satu ikon provinsi Sumatera Barat.
Mesin Jam Gadang diyakini hanya ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja yang saat ini terpasang di Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara manual tersebut oleh pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal) diberi nama Brixlion.
Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur
(Sekretaris Kota). Pada masa penjajahan Belanda, jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan, sedangkan pada masa pendudukan Jepang, berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.
Ukuran diameter jam ini adalah 80 cm, dengan denah dasar 13x4 meter sedangkan tingginya 26 meter. Pembangunan Jam Gadang yang konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden ini, akhirnya menjadi markah tanah atau lambang dari kota Bukittinggi. Ada keunikan dari angka-angka Romawi pada Jam Gadang ini. Bila penulisan huruf Romawi biasanya pada angka enam adalah VI, angka tujuh adalah VII dan angka delapan adalah VIII, Jam Gadang ini menulis angka empat dengan simbol IIII (umumnya IV).
Ini diseberang Jam Gadang, ada Istana Bung Hatta . Bung Hatta berasal dari Bukit Tinggi



 Sebenernya waktu itu mau ke Kebun Binatang dan naik jembatan di Bukit Tinggi, namun karena kami ingin melanjutkan perjalanan ke Great Wall dan Lobang Jepang dan berniat ke Puncak Lawang, akhirnya kami Langsung ke Great Wall dan Lobang Jepang.

Lobang Jepang

Dari situs : http://www.gosumatra.com/mengenang-sejarah-di-goa-jepang-lubang-jepang/

Sejarah terbentuknya Goa Jepang ini tentu bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kita karena tentunya dulu sewaktu sekolah kita pernah mempelajari tentang sejarahnya. Keberadaan Goa Jepang ini memang sebagai salah satu bukti dan saksi perjuangan para pahlawan kita dalam meraih kemerdekaan dan mempertahankan Indonesia. Keberadaan Goa Jepang di Bukittinggi juga bukanlah suatu kebetulan. Letaknya yang strategis di tengah Pulau Sumatra, membuat Kota ini sempat menjadi Pusat Komando Pertahanan Tentara Jepang di Sumatera (Seiko Sikikan Kakka). Pasukan Jepang saat itu di bawah pimpinan Jenderal Watanabe.

Selain untuk kubu pertahanan, Goa Jepang di Kota Bukittinggi ini juga berfungsi untuk ruang dapur, ruang makan, tempat penyimpan amunisi, barak,  rumah sakit, ruang sidang, dengan total 27 ruangan kompleks lengkap. Bahkan, denah pun tertera di dinding pintu masuk. Tahanan penduduk Indonesia dipaksa dengan kejam mengerjakan penggalian Goa ini. Bahkan, tidak sedikit yang gugur akibat siksaan kerja paksa dalam pembuatan Goa Jepang ini.

Ini katanya ruang pengintaian, itu lobang dideket kaki gunanya untuk masukin mayat dan langsung terhubung ke sungai


 dari atas lobang jepang (panorama), juga bakal dilihat ngarai sianok dan great wall


dan ini waktu di Puncak Lawang, perjalanan dari Bukit Tinggi ke Puncak Lawang sekitar 1 jam . Jalanan sempit dan berliku namun udara semakin dingin semakin mendekati puncak Lawang. Disana biasanya ada Parasailing, bisa ngeliat danau Maninjau dari atas Puncak Lawang, namun karena kami tersasar- sasar. Kami sampai di Puncak lawang pukul 5 sore. Kami tidak dapat melihat danau karena tertutup kabut, dan juga tidak ada aktivitas parasailing ketika kabut telah menutupi. Tapi memang sih ciri khas Puncak Lawang adalah kabutnya hehe .







0 komentar on "Bukit Tinggi, Sumatera Barat"

Unordered List

Labels

About Me

Followers

Me :D

Me :D

Here I Am

Here I Am
@ravenoamaral on instagram

Advertising

Advertising

Half Of Me

Half Of Me
@hilmarhandy on Instagram

Pages

Raveno Amaral's blog. Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 06 Oktober 2014

Sudah tiga tahun lebih tinggal di kota Padang, Sumatera Barat, sudah pernah juga sebelumnya pergi jalan - jalan ke Bukit Tinggi, tapi yaa sekedar lihat - lihat aja. Baru kali ini berkesempatan ke Bukit Tinggi yang bener - bener di explore. hehehe :) . Alasan utama berangkat ke Bukit Tinggi, karena Hilda Marhandy (A friend of life) datang ke Padang dan tentu saja karena telah jauh - jauh datang dari Kuala Lumpur (Malaysia) yaa berjalan - jalanlah menyusuri Bukit Tinggi hingga ke Puncak Lawang.

"Kalau belum ke Jam Gadang bearti belum ke Minang", begitu kata orang. Here we go !

Jam Gadang

Ini ada sedikit info, hasil intip dari situs http://www.catatansejarah.com/2010/11/sejarah-berdiri-jam-gadang-bukit-tinggi.html

Jam Gadang adalah sebuah menara jam yang merupakan markah tanah kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun. Nama Jama gadang diberikan oleh masyarakat Minangkabau kepada bangunan menara jam itu, karena memang menara itu mempunyai jam yang “gadang“, atau “jam yang besar” (jam gadang=jam besar; “gadang” berarti besar dalam bahasa Minangkabau).
Sedemikian fenomenalnya bangunan menara jam bernama Jam Gadang itu pada waktu dibangun, sehingga sejak berdirinya Jam Gadang telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang dijadikan penanda atau markah tanah Kota Bukittinggi dan juga sebagai salah satu ikon provinsi Sumatera Barat.
Mesin Jam Gadang diyakini hanya ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja yang saat ini terpasang di Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara manual tersebut oleh pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal) diberi nama Brixlion.
Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur
(Sekretaris Kota). Pada masa penjajahan Belanda, jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan, sedangkan pada masa pendudukan Jepang, berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.
Ukuran diameter jam ini adalah 80 cm, dengan denah dasar 13x4 meter sedangkan tingginya 26 meter. Pembangunan Jam Gadang yang konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden ini, akhirnya menjadi markah tanah atau lambang dari kota Bukittinggi. Ada keunikan dari angka-angka Romawi pada Jam Gadang ini. Bila penulisan huruf Romawi biasanya pada angka enam adalah VI, angka tujuh adalah VII dan angka delapan adalah VIII, Jam Gadang ini menulis angka empat dengan simbol IIII (umumnya IV).
Ini diseberang Jam Gadang, ada Istana Bung Hatta . Bung Hatta berasal dari Bukit Tinggi



 Sebenernya waktu itu mau ke Kebun Binatang dan naik jembatan di Bukit Tinggi, namun karena kami ingin melanjutkan perjalanan ke Great Wall dan Lobang Jepang dan berniat ke Puncak Lawang, akhirnya kami Langsung ke Great Wall dan Lobang Jepang.

Lobang Jepang

Dari situs : http://www.gosumatra.com/mengenang-sejarah-di-goa-jepang-lubang-jepang/

Sejarah terbentuknya Goa Jepang ini tentu bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi kita karena tentunya dulu sewaktu sekolah kita pernah mempelajari tentang sejarahnya. Keberadaan Goa Jepang ini memang sebagai salah satu bukti dan saksi perjuangan para pahlawan kita dalam meraih kemerdekaan dan mempertahankan Indonesia. Keberadaan Goa Jepang di Bukittinggi juga bukanlah suatu kebetulan. Letaknya yang strategis di tengah Pulau Sumatra, membuat Kota ini sempat menjadi Pusat Komando Pertahanan Tentara Jepang di Sumatera (Seiko Sikikan Kakka). Pasukan Jepang saat itu di bawah pimpinan Jenderal Watanabe.

Selain untuk kubu pertahanan, Goa Jepang di Kota Bukittinggi ini juga berfungsi untuk ruang dapur, ruang makan, tempat penyimpan amunisi, barak,  rumah sakit, ruang sidang, dengan total 27 ruangan kompleks lengkap. Bahkan, denah pun tertera di dinding pintu masuk. Tahanan penduduk Indonesia dipaksa dengan kejam mengerjakan penggalian Goa ini. Bahkan, tidak sedikit yang gugur akibat siksaan kerja paksa dalam pembuatan Goa Jepang ini.

Ini katanya ruang pengintaian, itu lobang dideket kaki gunanya untuk masukin mayat dan langsung terhubung ke sungai


 dari atas lobang jepang (panorama), juga bakal dilihat ngarai sianok dan great wall


dan ini waktu di Puncak Lawang, perjalanan dari Bukit Tinggi ke Puncak Lawang sekitar 1 jam . Jalanan sempit dan berliku namun udara semakin dingin semakin mendekati puncak Lawang. Disana biasanya ada Parasailing, bisa ngeliat danau Maninjau dari atas Puncak Lawang, namun karena kami tersasar- sasar. Kami sampai di Puncak lawang pukul 5 sore. Kami tidak dapat melihat danau karena tertutup kabut, dan juga tidak ada aktivitas parasailing ketika kabut telah menutupi. Tapi memang sih ciri khas Puncak Lawang adalah kabutnya hehe .







Categories:

0 komentar: